“ยินดีต้อนรับที่รักของฉัน” menjadi kalimat pertama yang di dengar si bayi perempuan setelah lahir di awal tahun baru 1996. Diberinya nama Marjorie Suki Tinicha, nama yang diambil dari nama neneknya sendiri. Marjorie tumbuh dengan kenangan dibesarkan dalam rumah sederhana ini, tidak besar namun hangat. Ibunya memiliki toko bunga di halaman depan, sehingga setiap ia pulang selalu disambut oleh ranum manis, sedangkan ayahnya adalah seorang karyawan di perusahaan besar. Tidak banyak yang ia tahu tentang pekerjaan ayahnya, terkadang ia merasa ayahnya akan menghindar saat ditanya. Marjorie hanya tau bahwa ayahnya adalah montir yang pintar untuk perusahaan bernama Asderive Corporation. Meski begitu, Marjorie sangat menjadikan ayahnya sebagai role model, ketertarikannya pada mesin pun diturunkan. Termasuk sifat pemberaninya.

Sewaktu kecil, Marjorie pernah diam-diam mengikuti ayahnya berangkat ke tempat kerja dan masuk ke dalamnya. Gadis berusia 9 tahun itu tentu terpana melihat teknologi disuguhkan di depan matanya sampai ia tidak sengaja menabrak seorang pria dan menjatuhkan sebuah prototype hingga terlepas cangkangnya. Panik, si kecil langsung mengambilnya. Dengan tool-kit kecil hadiah dari sang ayah yang selalu ia bawa kemana mana, Marjorie mencoba untuk memutar sekrup sekrup yang terlepas. Tidak sempurna dan tentu masih rusak, namun cangkangnya bisa kembali terpasang.

“M–Maaf..”, tangan kecilnya mengembalikan prototype itu ke tangan si pria sembari menangis ketakutan. Tidak disangka, si pria tersenyum dan meraih prototype itu dari tangan si kecil, “No worries, darling, memang sudah rusak kok. Terima kasih ya”.

Dan itu adalah pertemuan pertamanya dengan Mikolas Nocilio. Profesor yang ternyata juga adalah pemilik Asderive. Mikolas melihat potensi besar di Marjorie sedari kecil, ia memberikannya beasiswa untuk kemudian berkuliah di universitas Asderive, yang tentu saja universitas kalangan elit dan tidak mungkin keluarganya mampu untuk menyekolahkan ia di sana.

Melompati cerita, kini Marjorie sudah lulus dengan gelar Sarjana Teknik Kapal Luar Angkasa dan mengikuti pekerjaan ayahnya di perusahaan Mikolas. Tentu masih melanjutkan proyek rahasia yang sama seperti puluhan tahun lalu yang dikerjakan ayahnya. Beberapa tahun lalu, Profesor Mikolas memperkenalkannya dengan empat orang lainnya yang juga merupakan murid pilihan profesor, beliau menyebut mereka sebagai The Foreneer. Mereka dikumpulkan untuk melanjutkan apa yang telah di mulai Mikolas, mengingat kesehatannya yang semakin menurun.

Setelah Mikolas menutup usia, kini Project Ven sepenuhnya adalah tanggung jawab Marjorie, Valdi, Dido, Rayyan, dan Linka. Misi mereka pun di mulai.